Superplasticizer pada Shotcrete Geopolimer Tambang: Dosis yang Tepat Menentukan Keandalan

Shotcrete geopolimer hanya andal bila campurannya cukup encer untuk dikerjakan dan tetap kuat setelah mengeras. Dalam sebuah penelitian pada beton geopolimer berbahan dasar abu terbang, superplasticizer dosis 1,5% dari berat abu terbang menaikkan nilai slump dari 4–6,5 cm menjadi 8–10 cm, dengan kuat tekan 31,63 MPa (target 30 MPa) (Herwani et al., 2018).

Beton semprot, atau shotcrete, jadi salah satu cara utama memperkuat dinding dan atap terowongan tambang segera setelah proses penggalian. Supaya bisa menempel merata dan mengeras dengan baik, campuran beton yang dipakai perlu cukup encer untuk disemprotkan, tetapi tetap cukup kuat setelah mengeras. Salah satu bahan yang mulai dilirik untuk keperluan ini adalah beton geopolimer, jenis beton yang sama sekali tidak memakai semen Portland.

Masalahnya, beton geopolimer punya kecenderungan yang sama dengan beton pada umumnya: kalau campurannya terlalu kental, hasil akhirnya bisa berongga dan tidak merata. Penelitian tersebut mengukur langsung seberapa jauh masalah ini bisa diatasi dengan bahan tambahan bernama superplasticizer (Herwani et al., 2018).

Apa Itu Beton Geopolimer dan Mengapa Cenderung Kental?

Beton geopolimer dibuat dari abu terbang, sisa pembakaran batu bara yang kaya kandungan silika dan alumina, yang diaktifkan dengan larutan basa seperti natrium hidroksida, bukan dengan semen Portland seperti beton pada umumnya (Herwani et al., 2018). Namun begitu, sifat fisiknya tetap punya persoalan yang sama dengan beton biasa: kalau konsistensi campurannya terlalu tinggi dan kental, beton jadi sulit dikerjakan, sulit dituang dan dipadatkan, dan berisiko menjadi keropos.

Seberapa kental campuran tanpa bahan tambahan?

Penelitian ini mengukur langsung kekentalan campuran beton geopolimer tanpa bahan tambahan apa pun. Nilai slump, ukuran seberapa encer campuran beton segar, hanya berkisar 4 sampai 6,5 sentimeter. Campuran sekental ini disebut berperilaku seperti gel yang sangat pekat, dan proses pemadatannya relatif lambat serta membutuhkan alat penggetar tambahan (Herwani et al., 2018).

Superplasticizer Membuat Campuran Lebih Encer Tanpa Mengorbankan Kekuatan

Penambahan superplasticizer berbasis naphthalene terbukti mengubah kekentalan ini secara nyata. Pada dosis 1,5 persen dari berat abu terbang, nilai slump naik menjadi 8 sampai 10 sentimeter. Pada dosis 2 persen, nilai slump naik lebih jauh lagi, mencapai 11 sampai 16 sentimeter, dengan nilai tertinggi 16 sentimeter tercatat pada campuran dengan konsentrasi larutan natrium hidroksida 10 molar (Herwani et al., 2018).

Gambar 1. Hubungan nilai slump terhadap persentase jumlah superplasticizer beton geopolimer

Pengaruh dosis terhadap kuat tekan

Yang menarik, campuran yang lebih encer ini tidak mengorbankan kekuatan beton. Pada dosis optimum 1,5 persen dan konsentrasi larutan natrium hidroksida 8 molar, kekuatan tekan beton mencapai 31,63 megapascal (MPa), sekitar 5,42 persen lebih tinggi dibanding target kekuatan rencana sebesar 30 MPa. Penelitian ini juga mencatat bahwa semakin tinggi nilai slump, penuangan beton ke dalam cetakan menjadi lebih mudah dan keropos pada benda uji berkurang, tanpa terjadi pemisahan air ke permukaan selama proses pengerasannya (Herwani et al., 2018).

Gambar 2. Perbandingan kuat tekan beton geopolimer umur 28 hari terhadap kuat tekan rencana

Dosis yang Tepat, Bukan Sekadar Menambah Banyak

Menambah dosis superplasticizer melebihi 1,5 persen ternyata tidak memberi keuntungan yang sepadan. Pada dosis 2 persen dengan konsentrasi natrium hidroksida 8 molar, kuat tekan beton yang dicapai adalah 30,21 MPa, sedikit lebih rendah dibanding hasil pada dosis 1,5 persen. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penambahan superplasticizer memang efektif mengurangi kebutuhan air dalam campuran, tetapi kurang efektif untuk terus meningkatkan kekuatan begitu melewati dosis optimumnya (Herwani et al., 2018).

Pengaruh konsentrasi natrium hidroksida

Konsentrasi larutan natrium hidroksida yang dipakai untuk mengaktifkan abu terbang juga ikut mempengaruhi hasil akhirnya. Dari empat konsentrasi yang diuji, yaitu 8, 10, 12, dan 14 molar, konsentrasi 8 molar memberi hasil paling konsisten mendekati kekuatan rencana pada umur 28 hari. Penyimpangan terbesar justru terjadi pada konsentrasi 10 molar, yang menurut penelitian ini disebabkan oleh munculnya kristalisasi atau endapan natrium dalam larutan yang mengganggu proses pengaktifan abu terbangnya (Herwani et al., 2018).

Superplasticizer dosage (by weight of fly ash)

Slump value

28-day compressive strength (8 M NaOH)

No superplasticizer

4–6.5 cm

See Figure 2

1.5% (optimum dosage)

8–10 cm

31.63 MPa

2%

11–16 cm

30.21 MPa

Artinya bagi Penerapan Shotcrete di Tambang

Bagi operator tambang yang mempertimbangkan beton geopolimer sebagai bahan shotcrete, dua temuan di atas memberi patokan yang relevan:

  1. Tanpa penyesuaian kekentalan, campuran cenderung terlalu pekat. Kondisi ini berisiko menghasilkan lapisan berongga kalau diterapkan sebagai lapisan penyangga.
  2. Dosis superplasticizer yang tepat, bukan sekadar dosis besar, terbukti membuat campuran lebih encer sekaligus mempertahankan, bahkan sedikit meningkatkan, kekuatan tekannya.

Dua hal ini menunjukkan bahwa keandalan campuran beton geopolimer tidak ditentukan oleh satu bahan atau satu parameter saja, melainkan kombinasi yang tepat antara dosis bahan tambahan dan konsentrasi larutan aktivatornya. Kombinasi ini perlu diuji dan disesuaikan untuk tiap kondisi campuran, bukan diasumsikan sama untuk semua kasus.

Batasan Penelitian yang Perlu Diperhatikan

  • Penelitian mengukur kemudahan pengerjaan (slump) dan kuat tekan beton geopolimer berbahan dasar abu terbang pada umur 28 hari, dengan satu jenis superplasticizer (berbasis naphthalene).
  • Penelitian tidak menguji penyemprotan shotcrete di lapangan, sehingga performa campuran saat disemprotkan di terowongan perlu diuji langsung.
  • Hasilnya berlaku untuk kombinasi bahan yang diuji. Dosis dan konsentrasi aktivator perlu disesuaikan untuk setiap campuran.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Apa itu beton geopolimer?

Beton geopolimer adalah beton yang tidak memakai semen Portland. Dalam penelitian ini, beton dibuat dari abu terbang yang diaktifkan dengan larutan basa seperti natrium hidroksida.

Apa fungsi superplasticizer pada beton geopolimer?

Superplasticizer membuat campuran lebih encer dan mudah dikerjakan, serta mengurangi kebutuhan air. Pada studi ini, nilai slump naik dari 4–6,5 cm menjadi 8–10 cm pada dosis 1,5%.

Berapa dosis optimum superplasticizer?

Dalam studi ini, dosis optimum adalah 1,5% dari berat abu terbang, dengan kuat tekan 31,63 MPa pada natrium hidroksida 8 molar. Dosis 2% menghasilkan 30,21 MPa, sedikit lebih rendah.

Konsentrasi natrium hidroksida mana yang paling konsisten?

Konsentrasi 8 molar memberi hasil paling konsisten mendekati kekuatan rencana pada umur 28 hari. Penyimpangan terbesar terjadi pada 10 molar, yang dikaitkan dengan kristalisasi atau endapan natrium dalam larutan.

Kesimpulan: Andal, Bukan Hanya Kuat di Atas Kertas

Menentukan apakah sebuah campuran beton geopolimer layak dipakai untuk shotcrete tambang tidak cukup hanya dengan melihat angka kuat tekannya di atas kertas. Seberapa mudah campuran itu dikerjakan, dan seberapa tepat dosis bahan tambahan yang dipakai, sama pentingnya untuk memastikan hasil akhirnya benar-benar padat dan tidak berongga.

Pertimbangan seperti inilah yang mendasari cara APTEKINDO mengevaluasi campuran material shotcrete, termasuk penyesuaian dosis bahan tambahan seperti superplasticizer, agar lapisan penyangga yang dihasilkan benar-benar andal, bukan hanya kuat di atas kertas.

Sedang mempertimbangkan campuran shotcrete baru untuk tambang Anda? Diskusikan kebutuhan material dan kondisi lapangan Anda dengan tim APTEKINDO.

 

Daftar Pustaka

Herwani, Imran, I., Budiono, B., Pane, I., Zulkifli, E., & Elvira. (2018). Efektivitas superplasticizer terhadap workabilitas dan kuat tekan beton geopolimer. PORTAL Jurnal Teknik Sipil, 10(2), 12–18.

img