Mitigasi Longsor Tambang: Kenali Risiko Amblesan di Permukaan
Di kawasan tambang batu bara pegunungan, retakan pada jalan dan lereng kadang muncul bukan setelah hujan deras, melainkan berbulan-bulan setelah lorong tambang di bawahnya runtuh dan tanah di atasnya perlahan ambles. Pola retakan seperti ini dapat luput dari pemantauan longsor biasa yang umumnya lebih fokus pada curah hujan, kemiringan lereng, dan kondisi permukaan.
Padahal, mitigasi longsor tambang tidak dapat hanya mengandalkan faktor alam. Aktivitas penambangan di bawah permukaan meninggalkan perubahan pada kondisi geologi dan struktur tanah yang dapat terus berkembang bahkan setelah area tambang tidak lagi beroperasi. Jejak tersebut dapat mempengaruhi kestabilan permukaan dan menentukan lokasi yang lebih rentan mengalami pergerakan atau longsor.
Karena itu, memahami hubungan antara amblesan tambang dan kestabilan lereng menjadi bagian penting dalam strategi mitigasi longsor tambang, terutama pada kawasan yang memiliki riwayat penambangan bawah tanah.
Peta Kerawanan Longsor Selama Ini Berhenti di Faktor Alam
Kebanyakan peta kerawanan longsor disusun berdasarkan faktor topografi dan iklim seperti ketinggian, kemiringan lereng, arah hadap lereng, curah hujan, jenis batuan, dan jarak ke sungai. Faktor-faktor tersebut memang penting dan terbukti berpengaruh dalam berbagai kajian longsor.
Masalahnya, pendekatan tersebut pada dasarnya lebih banyak digunakan untuk memahami lereng alami. Kondisinya menjadi berbeda ketika di bawah lereng terdapat rongga atau area bekas penambangan.
Di kawasan tambang batu bara, setidaknya terdapat dua faktor tambahan yang perlu dipertimbangkan dalam mitigasi longsor tambang, yaitu kepadatan amblesan akibat aktivitas penambangan dan jarak terhadap area bekas tambang atau goaf.
Amblesan terjadi ketika rongga bekas penggalian di bawah tanah kehilangan daya topang sehingga lapisan batuan dan tanah di atasnya mengalami penurunan secara bertahap. Perubahan ini dapat memengaruhi kondisi permukaan dan kestabilan lereng, bahkan pada lokasi yang secara topografi terlihat relatif aman.
Amblesan Terbukti Ikut Menentukan Pola Longsor
Sebuah kajian pada kawasan tambang batu bara Xishan di Tiongkok menyusun basis data 18 faktor yang dikelompokkan menjadi empat kategori, yaitu bentang alam, geologi, lingkungan, dan aktivitas manusia.
Kepadatan amblesan dan jarak ke area bekas tambang termasuk dalam kategori aktivitas manusia, bersama faktor jarak ke jalan dan tata guna lahan.
Setelah melalui proses penyaringan untuk menghilangkan faktor yang memiliki pengaruh tumpang tindih, 12 faktor akhirnya digunakan untuk memprediksi kerawanan longsor, termasuk kepadatan amblesan.
Ketinggian tetap menjadi faktor paling berpengaruh, yang cukup masuk akal mengingat wilayah penelitian merupakan kawasan pegunungan dengan kondisi lembah. Namun, kepadatan amblesan berada dalam kelompok faktor yang cukup penting bersama kondisi air tanah dan tata guna lahan (Dong et al., 2024).

Gambar 1. Peringkat tingkat kepentingan faktor-faktor kondisi longsor
Temuan tersebut menunjukkan bahwa kondisi bawah permukaan akibat aktivitas tambang layak diperhitungkan dalam analisis kerawanan lereng. Dengan kata lain, mitigasi longsor tambang membutuhkan informasi yang lebih lengkap daripada sekadar data topografi dan curah hujan.
Model prediksi yang dibangun dengan menggabungkan tiga metode, yaitu frequency ratio, GeoDetector, dan support vector machine, menghasilkan akurasi yang lebih tinggi dibandingkan model tunggal. Model gabungan tersebut mencapai akurasi 0,91 pada data uji, sedangkan model pembanding berada pada kisaran 0,85–0,88.
Hasil pemetaan menunjukkan sebagian besar kawasan tambang berada dalam kategori risiko rendah. Namun, zona berisiko tinggi dan sangat tinggi terkonsentrasi di sepanjang jalan dan lembah, yang pada beberapa lokasi juga berhimpitan dengan zona amblesan aktif.
Empat tambang, yaitu Tunlan, Xiqu, Zhencheng, dan Baijiazhuang, mencatat proporsi wilayah berisiko tinggi dan sangat tinggi paling besar dibandingkan tambang lain di kawasan penelitian, masing-masing sekitar 4,6%, 3,9%, 3,6%, dan 3,2% dari luas wilayahnya.
BACA JUGA: Panduan Mengukur Risiko Tambang dan Slope Protection

Gambar 2. Peta risiko longsor

Gambar 3. Statistik luas area berisiko di wilayah pertambangan
Apa Artinya bagi Mitigasi Longsor Tambang?
Implikasi paling langsung dari temuan tersebut adalah perlunya perubahan cara memandang pemantauan lereng di kawasan tambang.
Jika amblesan akibat penambangan bawah tanah dapat berkontribusi terhadap kerawanan lereng permukaan, maka data peta bekas tambang dan kepadatan amblesan seharusnya menjadi bagian dari basis data pemantauan longsor. Data tersebut perlu dipertimbangkan bersama curah hujan, kemiringan lereng, kondisi geologi, dan parameter lainnya.
Pemantauan yang hanya mengandalkan sensor curah hujan dan pergerakan permukaan berpotensi memberikan gambaran yang tidak lengkap ketika sumber perubahan berasal dari kondisi bawah permukaan.
Dalam konteks mitigasi longsor tambang, riwayat penambangan, batas area bekas tambang, pola amblesan, serta perubahan deformasi permukaan dapat digunakan untuk menentukan area yang perlu mendapatkan perhatian lebih besar.
Pendekatan ini juga membantu menentukan prioritas penanganan. Tidak semua area tambang memiliki tingkat risiko yang sama. Zona dengan riwayat amblesan yang luas dan berada dekat dengan jalan, fasilitas tambang, permukiman, atau infrastruktur penting perlu menjadi prioritas dibandingkan area dengan kondisi serupa tetapi jauh dari aktivitas manusia.
Riwayat Tambang Menentukan Strategi Penanganan Lereng
Menilai kestabilan lereng di kawasan tambang tidak dapat berhenti pada pengamatan permukaan. Riwayat penambangan bawah tanah, sebaran area bekas tambang, kondisi geologi, serta pola amblesan perlu dipertimbangkan sejak tahap investigasi dan kajian awal.
Informasi tersebut dapat membantu menentukan apakah suatu area membutuhkan pemantauan tambahan, analisis kestabilan lereng yang lebih detail, atau tindakan perbaikan untuk meningkatkan kestabilan tanah dan batuan.
Pada tahap penanganan, pendekatan rekayasa geoteknik dapat menjadi bagian dari strategi mitigasi longsor tambang, termasuk penerapan ground support, stabilitas lereng, dan soil improvement sesuai dengan kondisi geologi serta mekanisme kegagalan yang ditemukan di lapangan.
Dengan demikian, mitigasi tidak hanya dilakukan ketika retakan atau pergerakan lereng sudah terlihat, tetapi dimulai dari pemahaman terhadap riwayat aktivitas tambang dan perubahan kondisi bawah permukaan.
Bagi kawasan tambang yang memiliki aktivitas penambangan bawah tanah, memahami apa yang terjadi di bawah permukaan sama pentingnya dengan mengamati apa yang terlihat di permukaan. Pendekatan inilah yang menjadi dasar dalam merancang solusi geoteknik yang lebih tepat untuk mitigasi longsor tambang, baik melalui pemantauan, stabilisasi, ground support, maupun soil improvement.
Daftar Pustaka
Dong, L., Zhang, J., Zhang, Y., & Zhang, B. (2024). Landslide risk assessment in mining areas using hybrid machine learning methods under fuzzy environment. Ecological Indicators, 167, 112736. https://doi.org/10.1016/j.ecolind.2024.112736