Mitigasi Longsor Tambang: Memahami Faktor Lereng 

 

Ketika sebuah lereng tambang runtuh, penyebabnya sering dikaitkan dengan hujan deras. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak cukup menjelaskan mengapa dua lereng yang menerima curah hujan yang sama bisa menunjukkan respons yang berbeda. 

Ada lereng yang tetap stabil, sementara lereng lain mulai mengalami deformasi hingga akhirnya gagal. Perbedaan inilah yang menjadi fokus penelitian Wang et al. (2026), yang menggabungkan pengamatan deformasi berbasis satelit dengan analisis berbagai faktor  geologi dan aktivitas penambangan untuk memahami penyebab ketidakstabilan lereng.

 

Selama periode pengamatan, jumlah lereng yang mengalami deformasi meningkat pada musim hujan. Nilai deformasi median maupun maksimum juga tercatat lebih tinggi dibandingkan musim kering. Namun pola tersebut tidak berarti hujan menjadi penyebab tunggal. 

Ketika data deformasi dibandingkan dengan karakteristik geologi dan kondisi operasi tambang, terlihat bahwa perubahan lereng berkembang melalui interaksi beberapa faktor yang bekerja secara bersamaan (Wang et al., 2026).

Kemiringan Lereng Bukan Faktor yang Paling Menentukan

Sudut lereng sering menjadi perhatian utama dalam evaluasi kestabilan. Logikanya sederhana: semakin curam lereng, semakin besar risiko longsor. Hasil penelitian ini justru menunjukkan gambaran yang lebih kompleks.

Melalui analisis Random Forest dan SHAP, kepadatan aktivitas tambang (mine density) muncul sebagai faktor dengan pengaruh paling besar terhadap ketidakstabilan lereng. Kontribusinya berada pada kisaran 0,059–0,082, lebih tinggi dibandingkan kedekatan terhadap sesar (0,045–0,064) maupun kemiringan lereng yang hanya berada pada kisaran 0,023–0,035 (Wang et al., 2026).

Angka tersebut menunjukkan bahwa bentuk lereng tidak dapat dipisahkan dari lingkungan di sekitarnya. Aktivitas penambangan, kondisi geologi, dan struktur bawah permukaan dapat memberikan pengaruh yang lebih besar daripada geometri lereng itu sendiri. Karena itu, dua lereng dengan sudut yang hampir sama belum tentu memiliki tingkat risiko yang sama.

Hubungan tersebut juga tidak bersifat linier. Risiko deformasi tertinggi ditemukan pada area dengan kepadatan aktivitas tambang sekitar 0,1–0,2 dan berjarak sekitar 1,5–2 km dari area penambangan. 

Temuan ini menunjukkan bahwa ketidakstabilan lereng berkembang sebagai respons terhadap kombinasi kondisi operasi dan karakteristik geologi, bukan akibat satu variabel yang berdiri sendiri (Wang et al., 2026).

Perubahan Kecil Sering Muncul Lebih Dulu

Lereng tidak langsung runtuh ketika keseimbangannya mulai berubah. Pada banyak kasus, perubahan tersebut diawali oleh deformasi yang sangat kecil sehingga sulit dikenali melalui inspeksi visual.

Melalui pengamatan SBAS-InSAR, peneliti mengidentifikasi beberapa zona yang terus mengalami pergerakan sebelum dilakukan verifikasi lapangan. Saat lokasi tersebut diperiksa secara langsung, ditemukan rekahan penurunan tanah (subsidence fissures) dengan lebar hingga sekitar 1 meter, retakan tarik (tension cracks) yang mencapai sekitar 1,8 meter, serta blok lereng yang telah mengalami pergeseran dangkal (Wang et al., 2026).

Retakan tersebut bukan awal dari masalah, melainkan bagian dari proses yang sudah berlangsung sebelumnya. Karena itu, pemantauan deformasi menjadi lebih bernilai ketika dipadukan dengan informasi geologi, kondisi lereng, dan aktivitas penambangan. Data tidak lagi berfungsi sebagai catatan pergerakan, tetapi membantu menjelaskan mengapa suatu lereng mulai kehilangan kestabilannya.

Stabilitas lereng merupakan hasil interaksi banyak faktor yang saling mempengaruhi. Curah hujan, struktur geologi, litologi, serta aktivitas penambangan membentuk respons yang berbeda pada setiap lokasi. 

Penelitian Wang et al. (2026) menunjukkan bahwa memahami hubungan antar faktor tersebut memberikan dasar yang lebih kuat untuk mengidentifikasi area berisiko dibandingkan hanya mengandalkan satu parameter.

Bagi industri pertambangan, pendekatan ini membuka peluang untuk mengarahkan pemantauan dan mitigasi secara lebih tepat sasaran. APTEKINDO mendukung upaya tersebut melalui solusi geoteknik dan ground support yang dirancang berdasarkan pemahaman menyeluruh terhadap perilaku lereng, sehingga pengelolaan risiko dapat dilakukan sebelum berkembang menjadi kegagalan lereng. Pelajari lebih lanjut mengenai solusi ground support APTEKINDO pada websiter aptekindo.com

 

Daftar Pustaka

Wang, P., Deng, H., Li, J., Jiang, Z., Tian, G., Liu, Y., & Pan, Z. (2026). Unraveling the controls of unstable slopes in mining-affected coalfields through InSAR observations and multivariate modeling. International Journal of Applied Earth Observation and Geoinformation, 146, 105089.  

img