Block Strip Mining: Tahapan Penambangan yang Efisien

 

Tidak ada area tambang yang tetap sama sepanjang umur operasi. Front penambangan terus bergeser mengikuti cadangan yang dibuka. Jalur angkut bertambah panjang, disposal berpindah, dan alat berat mulai bekerja di lokasi yang berbeda. Perubahan itu terjadi sedikit demi sedikit, tetapi mempengaruhi hampir seluruh aktivitas di dalam pit.

Karena itulah penambangan dilakukan secara bertahap. Setiap blok dibuka mengikuti urutan yang sudah direncanakan sehingga pengupasan overburden, pembukaan lapisan batubara, dan perpindahan alat tetap berjalan selaras. 

Hartman (1987), Hustrulid dan Kuchta (2006), serta Darling (2011) menjelaskan bahwa sequence menjadi bagian penting dalam surface mine design karena menentukan arah perkembangan pit selama umur tambang.

Block Strip Mining menggunakan prinsip tersebut dengan membagi area penambangan ke dalam beberapa blok kerja. Setiap blok memiliki batas yang jelas sehingga perkembangan pit lebih mudah dikendalikan dari satu periode ke periode berikutnya. Urutan penambangan pun dapat disusun mengikuti kondisi setiap blok, bukan berdasarkan luas area tambang secara keseluruhan.

Parhusip et al. (2021) menerapkan metode ini setelah mengevaluasi sistem penambangan yang digunakan sebelumnya. Area kerja kemudian dibagi menjadi sembilan blok, mulai dari BA hingga BI. Pembagian tersebut memudahkan penyusunan tahapan penambangan sekaligus memberikan batas kerja yang lebih jelas pada setiap periode produksi. 

Sebelum sequence disusun, rancangan pit dibentuk menggunakan overall slope angle 41°, single slope 60°, bench height 10 meter, dan bench width 10 meter. Seluruh parameter kemudian dimodelkan dalam Minescape 5.7 untuk menghasilkan geometri pit sekaligus menyusun urutan penambangan pada setiap blok (Parhusip et al., 2021). 

 

Dari Rancangan Pit ke Target Produksi Bulanan

Pembagian sembilan blok menjadi titik awal penyusunan rancangan bulanan. Luas setiap blok dipertahankan, sedangkan batas elevasi penambangan diturunkan mengikuti target produksi pada bulan April, Mei, dan Juni. Cara ini membuat rancangan bulan berikutnya tidak perlu dimulai dari awal karena perubahan hanya terjadi pada elevasi penambangan, sementara batas blok tetap digunakan sebagai acuan. 

Perubahan elevasi tersebut langsung memengaruhi volume material yang akan ditambang. Pada rancangan bulan April, total cadangan batubara yang direncanakan mencapai sekitar 498 ribu ton dengan volume overburden sekitar 3,58 juta BCM dan stripping ratio 7,2. 

Memasuki bulan Mei, cadangan batubara berubah menjadi sekitar 460 ribu ton dengan 3,56 juta BCM overburden, sedangkan pada bulan Juni volume batubara diperkirakan sekitar 481 ribu ton dengan 3,42 juta BCM overburden. Nilai stripping ratio juga berubah mengikuti karakteristik setiap blok yang ditambang. 

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa setiap blok memiliki karakteristik yang berbeda. Ada blok dengan kebutuhan pengupasan yang relatif rendah, sementara blok lain memiliki stripping ratio jauh lebih tinggi. Informasi seperti ini menjadi dasar dalam menyusun jadwal penambangan karena volume overburden yang dipindahkan tidak selalu sebanding dengan batubara yang diperoleh pada setiap periode. 

 

 

 

tersebut kemudian digunakan untuk menyusun pembagian unit produksi pada masing-masing blok. Jumlah excavator, alat angkut, dan urutan pekerjaan disesuaikan dengan volume material yang harus dipindahkan selama satu bulan. Dengan demikian, rancangan pit tidak berhenti pada gambar desain, tetapi menjadi dasar dalam menentukan kebutuhan operasi harian. 

Menyelaraskan Kebutuhan Alat dengan Rancangan Penambangan

Rancangan penambangan tidak berhenti setelah volume overburden dan cadangan batubara dihitung. Data tersebut menjadi dasar untuk menentukan jumlah alat yang dibutuhkan pada setiap blok. Semakin besar volume material yang harus dipindahkan, semakin besar pula kapasitas alat gali-muat dan alat angkut yang diperlukan agar target produksi tetap tercapai.

Parhusip et al. (2021) menyusun kebutuhan alat berdasarkan volume material pada setiap periode penambangan. Perhitungan dilakukan untuk memastikan kapasitas produksi alat seimbang dengan target overburden maupun batubara yang telah ditetapkan pada rancangan bulanan. Tahap ini menghubungkan hasil perencanaan dengan pelaksanaan operasi sehingga setiap blok memiliki sumber daya yang sesuai dengan beban kerjanya. 

Hasil simulasi menunjukkan bahwa kegiatan pengupasan overburden direncanakan menggunakan kombinasi excavator Komatsu PC2000 dan PC1250 yang dipadukan dengan dump truck HD785 dan HD465. 

Pemilihan kombinasi tersebut disesuaikan dengan produktivitas masing-masing alat serta jarak angkut menuju disposal. Pada rancangan bulan Juni, jarak angkut overburden mencapai sekitar 2,62 kilometer, sehingga kebutuhan armada dihitung agar waktu tunggu alat gali-muat tetap rendah dan siklus pengangkutan berjalan seimbang. 

Penelitian ini juga menggunakan match factor (MF) sebagai indikator keseimbangan antara alat gali-muat dan alat angkut. Nilai MF = 1 menunjukkan bahwa kapasitas kedua kelompok alat berada dalam kondisi seimbang sehingga waktu menganggur (idle time) dapat ditekan. Kondisi ini penting karena kelebihan jumlah dump truck tidak selalu meningkatkan produksi, sementara kekurangan armada akan membuat excavator lebih sering menunggu unit angkut. 

Perhitungan kebutuhan alat menunjukkan bahwa perubahan rancangan penambangan akan diikuti oleh perubahan kebutuhan operasi. Ketika volume overburden bertambah atau jarak angkut berubah, jumlah unit dan pola distribusi alat perlu disesuaikan agar produktivitas tetap mendekati target yang telah direncanakan. 

Hubungan ini memperlihatkan bahwa evaluasi terhadap rancangan penambangan tidak berhenti pada gambar pit atau angka cadangan, tetapi berlanjut hingga memastikan setiap tahapan dapat dijalankan dengan kapasitas alat yang memadai (Parhusip et al., 2021)

Setiap tahap penambangan selalu dimulai dari perencanaan. Pembagian blok, penyusunan sequence, hingga penentuan kebutuhan alat menjadi dasar agar target produksi dapat dicapai secara lebih terukur. 

Penelitian Parhusip et al. (2021) menunjukkan bahwa pendekatan Block Strip Mining membantu menyusun tahapan penambangan yang lebih sistematis sekaligus mempermudah pengendalian operasi pada setiap periode.

Bagi APTEKINDO, pemahaman terhadap tahapan penambangan menjadi dasar dalam merancang solusi geoteknik yang tepat untuk setiap proyek. Melalui layanan ground support, grouting, dan soil improvement, APTEKINDO mendukung kebutuhan industri pertambangan dengan solusi yang disesuaikan dengan kondisi lapangan dan tahapan operasinya. Pelajari lebih lanjut mengenai layanan APTEKINDO pada  website aptekindo.com 

 

Daftar Pustaka

Darling, P. (Ed.). (2011). SME Mining Engineering Handbook (3rd ed.). Society for Mining, Metallurgy, and Exploration.

Hartman, H. L. (1987). Introductory Mining Engineering. John Wiley & Sons.

Hustrulid, W., & Kuchta, M. (2006). Open Pit Mine Planning and Design (2nd ed.). Taylor & Francis.

Parhusip, R., dkk. (2021). Simulasi Rancangan Teknis dan Penjadwalan Penambangan Menggunakan Metode Block Strip Mining

img