IRMS Conference 2026: Tiga Perspektif tentang Masa Depan Ground Support di Industri Tambang

Setiap tambang menghadapi tantangan geoteknik yang berbeda. Pada satu lokasi, persoalan utama berasal dari potensi rockfall pada lereng terbuka. Di lokasi lain, aliran air tanah justru menjadi faktor yang paling menentukan keberhasilan excavasi bawah tanah. Semakin dalam kegiatan penambangan berlangsung, semakin besar kebutuhan terhadap sistem penyangga yang mampu beradaptasi dengan perubahan kondisi massa batuan.

Topik tersebut menjadi fokus berbagai diskusi dalam IRMS Conference 2026 (Indonesia Rock Mechanics Society), forum tahunan yang mempertemukan engineer, akademisi, konsultan, dan praktisi pertambangan untuk berbagi pengalaman mengenai penerapan mekanika batuan pada proyek nyata. Pada penyelenggaraan tahun ini, APTEKINDO turut berpartisipasi sekaligus menghadirkan tiga pembicara yaitu Cyrillus Arthur Saputra (Chief Engineer), Hazmi Andreanur (Sr. Engineer), dan Okky Chandra Permana (Direktur Operasional) yang membahas implementasi ground support, evaluasi pre-grouting, dan perkembangan teknologi sementasi berdasarkan pengalaman proyek di Indonesia.

 

Membaca Kondisi Batuan Sebelum Memasang Ground Support 

Presentasi Cyrillus Arthur Saputra memperlihatkan bagaimana keputusan ground support dibangun melalui proses investigasi dan pengujian lapangan sebelum sistem penyangga dipasang (Saputra, 2026).

Salah satu studi kasus yang dipaparkan adalah pembangunan rock fall barrier berkapasitas 2.000 kJ dengan panjang sekitar 350 meter, yang menjadi instalasi dengan bentang terpanjang di Indonesia (Saputra, 2026).

 

Kapasitas barrier ditentukan melalui evaluasi geometri lereng, karakteristik litologi, simulasi lintasan batu menggunakan RocFall2, dan verifikasi anchor melalui destructive pull out test. Pengujian tersebut menghasilkan ultimate bond stress sebesar 945 kPa pada litologi breksi vulkanik dan digunakan sebagai salah satu dasar desain (Saputra 2026).

Arthur juga membahas program pre-excavation grouting pada pembangunan vertical shaft menggunakan 20 lubang dengan kedalaman 95 meter dan total injeksi 24.091 kg microfine cement untuk mengurangi aliran air sebelum excavasi dimulai (Saputra 2026).

Studi kasus lain menunjukkan evaluasi sistem cable bolt menggunakan campuran grout dengan additive. Hasil pengujian memperlihatkan bahwa sistem tersebut mampu mencapai proof load 5,69 ton dalam enam jam, melampaui target 5 ton pada tahap early age readiness (Saputra 2026).

Waktu curing sering dianggap sebagai bagian tetap dari siklus development. Hasil pengujian tersebut menunjukkan bahwa durasi tersebut masih dapat dioptimalkan selama setiap perubahan didukung oleh proses verifikasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Nilai Lugeon Menentukan Langkah Berikutnya

Pembangunan vertical shaft sering menghadapi tantangan aliran air tanah yang tinggi. Dalam kondisi tersebut, keberhasilan program pre-grouting tidak dapat dinilai dari banyaknya semen yang diinjeksikan, tetapi dari perubahan permeabilitas massa batuan setelah pekerjaan selesai.

Presentasi Hazmi Andreanur mengangkat studi kasus vertical shaft di Sulawesi yang berada di sekitar zona Sesar Palu-Koro. Program grouting menggunakan microfine cement dipilih karena mampu mengisi rekahan halus pada batuan dengan aliran air yang relatif tinggi (Andreanur et al. 2026).

Evaluasi dilakukan menggunakan Lugeon Test. Sebelum grouting, nilai permeabilitas rata-rata tercatat 6,83 Lu. Setelah seluruh tahapan injeksi selesai, pengujian ulang menunjukkan nilai tersebut turun menjadi 1,64 Lu, atau berkurang sebesar 5,19 Lu (Andreanur et al., 2026).

Penurunan tersebut menunjukkan bahwa jalur aliran air di dalam massa batuan berhasil diperkecil sehingga area excavasi memenuhi target yang ditetapkan sebelum pekerjaan dilanjutkan.

 

Teknologi Sementasi Terus Berkembang Mengikuti Tantangan Tambang

Perspektif yang lebih strategis dibahas oleh Okky Chandra Perdana, Director Operational APTEKINDO, yang menjelaskan bagaimana teknologi sementasi berkembang seiring meningkatnya kompleksitas operasi tambang modern (Perdana 2026).

Menurut Perdana (2026), banyak tambang bawah tanah kini beroperasi pada kedalaman lebih dari 1.000 meter, sehingga tekanan batuan, deformasi massa batuan, dan risiko rockfall meningkat secara signifikan. Kondisi tersebut mendorong pergeseran dari sistem penyangga konvensional menuju material berbasis semen yang dapat dimodifikasi sesuai kebutuhan lapangan.

Perubahan tersebut terutama didukung oleh penggunaan admixture yang memungkinkan karakteristik beton disesuaikan dengan kebutuhan konstruksi. Accelerator digunakan untuk mempercepat pengerasan, retarder mengendalikan waktu ikat, sementara plasticizer dan superplasticizer meningkatkan kemudahan pengerjaan tanpa menambah kadar air campuran (Perdana 2026).

Pada tambang bawah tanah, teknologi sementasi digunakan untuk menjaga stabilitas bukaan dan mengendalikan deformasi massa batuan. Pada tambang terbuka, material yang sama diterapkan untuk stabilisasi lereng dan perlindungan terhadap jatuhan batuan (Perdana 2026).

Perdana juga menyoroti beberapa teknologi yang mulai berkembang di industri, seperti Fiber Reinforced Shotcrete, Robotic Shotcrete, Smart Concrete Sensors, dan Self-Healing Concrete. Teknologi tersebut dikembangkan untuk meningkatkan daktilitas material, konsistensi aplikasi, kemampuan monitoring real-time, serta durabilitas sistem penyangga (Perdana 2026).

 

Apa yang Menghubungkan Ketiga Pembahasan Ini? 

Tiga presentasi dalam IRMS 2026 membahas persoalan yang berbeda, tetapi menggunakan pendekatan yang sama. Pull out test, Lugeon Test, evaluasi karakteristik material, hingga pemilihan jenis admixture digunakan untuk mengurangi ketidakpastian sebelum pekerjaan konstruksi dilaksanakan (Saputra 2026; Andreanur et al. 2026; Perdana 2026).

Pengalaman yang dibagikan selama IRMS Conference 2026 memperlihatkan bahwa perkembangan teknologi geoteknik tidak dapat dipisahkan dari proses verifikasi lapangan. Inovasi baru akan memberikan manfaat ketika didukung oleh pengujian yang tepat, sementara hasil pengujian hanya bernilai apabila diterjemahkan menjadi keputusan engineering yang sesuai dengan karakteristik massa batuan.

Pendekatan tersebut juga menjadi dasar APTEKINDO dalam mendukung berbagai pekerjaan geoteknik di industri pertambangan Indonesia, mulai dari program grouting, sistem ground support, hingga pengembangan solusi berbasis teknologi sementasi untuk kondisi lapangan yang berbeda-beda.

 

Daftar Pustaka

Andreanur, H., Faiz, Z.A., Afrizal, A., Ardhan, L.F., Hadimar, N.Y., Kumalasari, I.R., Saputra, C.A. & Wibisono, D. 2026. Practical Evaluation of Pre-Grouting Effectiveness in Vertical Shaft Excavation: A Case Study from an Underground Mining Project in Indonesia. APTekindo Technical Paper.

Perdana, O.C. 2026. Evolusi dan Peran Strategis Teknologi Sementasi di Industri Tambang Modern. APTekindo Technical Paper.

Saputra, C.A. 2026. Workshop IRMS 2026: Artificial Ground Support on Slope, Underground Works, Batching Plant Operation, Geosynthetic Solution, Geotechnical Solution, Additional Expertise (Mining and Civil Works Infrastructure), Structural Repair and Strengthening, Waterproofing Polyurea. APTekindo Technical Paper.

img